Burung berkicau
Sambut pagi nan sepi
Dingin menusuk
Tulang nadi
Kau bergegas
Ambi tali
Tunaikan tugas
Seorang petani
Dengan langkah tegap
Santai namun pasti
Di kepala bertengger caping besar
Telusuri ladang tanpa alas kaki
Panas terik tidaklah peduli
Hujan badai itupun tidak berarti
Demi kebutuhan hidup
Keluarga yang dicintai
Dj
Kamis, 24 Juli 2008
Keluh Kesah Sang Penjaja Bubur
Mbok sum yang setiap pagi jualan bubur di pojok jalan, pagi itu kelihatan murung. Ada apa mbok? Tanya Nur (PRT Pak Pur )
“ aku sangat bingung, aku harus bagaimana? kata mbok Sum sang penjaja bubur. Semua bahan naik, minyak tanah sulit aku dapat, karena mau diganti dengan Gas. Tapi tidak semua dapat. Katanya, pemerintah ingin rakyatnya hidup makmur tapi kok malah hancur ( mbok Sum sambil mengusap kening yang tidak ada keringatnya). Erin
“ aku sangat bingung, aku harus bagaimana? kata mbok Sum sang penjaja bubur. Semua bahan naik, minyak tanah sulit aku dapat, karena mau diganti dengan Gas. Tapi tidak semua dapat. Katanya, pemerintah ingin rakyatnya hidup makmur tapi kok malah hancur ( mbok Sum sambil mengusap kening yang tidak ada keringatnya). Erin
Label:
Ruang Ekspresi
Langganan:
Postingan (Atom)