Tampilkan postingan dengan label Ruang Ekspresi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Ekspresi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juli 2008

..........

Burung berkicau
Sambut pagi nan sepi
Dingin menusuk
Tulang nadi

Kau bergegas
Ambi tali
Tunaikan tugas
Seorang petani

Dengan langkah tegap
Santai namun pasti
Di kepala bertengger caping besar
Telusuri ladang tanpa alas kaki

Panas terik tidaklah peduli
Hujan badai itupun tidak berarti
Demi kebutuhan hidup
Keluarga yang dicintai

Dj

Keluh Kesah Sang Penjaja Bubur

Mbok sum yang setiap pagi jualan bubur di pojok jalan, pagi itu kelihatan murung. Ada apa mbok? Tanya Nur (PRT Pak Pur )

“ aku sangat bingung, aku harus bagaimana? kata mbok Sum sang penjaja bubur. Semua bahan naik, minyak tanah sulit aku dapat, karena mau diganti dengan Gas. Tapi tidak semua dapat. Katanya, pemerintah ingin rakyatnya hidup makmur tapi kok malah hancur ( mbok Sum sambil mengusap kening yang tidak ada keringatnya). Erin

Lapar

Ku lapar
Ku mau makan
Tapi lambungku
Tlah kehabisan
Sementara sawahku
Kini tumbuh bangunan



Ku lapar
Ku mau makan
Tapi lambungku
Tlah kehabisan
Sementara sawahku
Kini tumbuh bangunan

Ku lapar
Ku mau makan
Tapi tak tertelan
Leherku terbelit hutang

Kau dengar jerit pilu anak kami
Yang kekurangan gizi
Harga-harga yang melambung tinggi
Susu tak terbeli

Wahai dewan yang terhormat
Pedulikan kami
Rakyat, yang hidup makin mlarat
Kini
Kami hampir sekarat
Erin

Kuketuk

Ku ketuk pintu Menawarkan jasaku
Demi hidup Dan masa depanku

Ku manusia Yang punya impian
Dan juga asa Tak peduli……





Ku ketuk pintu Menawarkan jasaku
Demi hidup Dan masa depanku

Ku manusia Yang punya impian
Dan juga asa Tak peduli……

Meski duri Dan aral menghadang
Sapu lidi Mesin cuci Teman sejati

Engkaulah saksi Saat keringat
Membasahi seluruh tubuh Tak peduli

Sering umpatan
Dan caci maki
Tak pernah pujian
Dan ucapan terimakasih

Tak peduli
Selama matahari
Masih menyinari bumi
Semangat terpatri
Esok akan lebih baik
Erin